Macet. Padat. Polusi. Belanja. Presiden.
Kata-kata tersebut terasa cocok untuk menjelaskan Jakarta, ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah kota besar yang kian lama kian padat. Dan macet adalah salah satu masalah yang tidak juga selesai hingga saat ini. Tidak hanya itu, banjir, tingkat kriminal yang semakin tinggi, serta semakin berkurangnya tingkat kesehatan udara karena tebalnya polusi yang dari ribuan kendaraan yang lewat di jalan-jalan ibukota setiap hari.
Setiap pemilihan gubernur baru, masyarakat selalu menuntut gubernur yang terpilih untuk menuntaskan masalah-masalah tersebut. Namun masalah-masalah Jakarta ini tentu tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikan masalah yang sudah ada.
Seperti macet.
Hampir segala cara dicoba oleh pemerintah Jakarta. Walaupun kebanyakan macet ditengah jalan. Namun di balik semua itu, inti masalah yang ada di Jakarta adalah, penuhnya manusia-manusia yang tinggal di Jakarta. Sebagai ibukota negara, tidak bisa dipungkiri bahwa Jakarta adalah kota yang lengkap. Ada banyak sekali lowongan kerja yang bisa di dapat di Jakarta. Bagi yang suka belanja, Jakarta memiliki spot-spot belanja dari harga yang murah, hingga barang-barang bermerek yang mahal. Inilah yang mengakibatkan banyaknya perantau dari berbagai daerah yang memilih Jakarta sebagai tempat untuk mencari rezeki. Tidak salah memang. Karena semua orang membutuhkan uang untuk kelangsungan hidupnya.
Tapi jika hal ini terus menerus terjadi (para perantau yang semakin banyak datang ke Jakarta, mahasiswa yang telah lulus dari kampusnya menolak ‘pulang kampung’ dan memilih tinggal di Jakarta, serta penggunaan kendaraan yang kurang bijak) Jakarta tidak akan pernah berubah.
Kemacetan yang kerap terjadi kadang terasa mengganggu jalannya kegiatan pemerintahan di Jakarta. Karena Jakarta merupakan pusat pemerintahan Indonesia. Bayangkan saja ketika presiden atau menteri-menteri memerlukan akses keluar kota, sedangkan di dalam kota terjadi kemacetan yang sangat padat. Meskipun diiringi dengan pengawal-pengawal lalu lintas, jika kemacetan tidak juga reda, bagaimana para pejabat ini akan lewat. Apakah dengan helikopter? Bisa. Tapi pasti akan membengkakkan anggaran toh?
Pembangunan-pembangunan di daerah selain Jakarta secara tidak langsung akan membantu menyelamatkan Jakarta. Kenapa? Karena masyarakat dapat berpikir ulang untuk memilih kota perantauan. Setidaknya ibukota dari setiap provinsi di Indonesia harus memiliki kualitas yang hampir menyamai Jakarta. Dengan kualitas yang semakin meningkat, kota-kota ini mampu membantu kemacetan Jakarta dengan mengurangi manusia-manusia dari kotanya untuk merantau ke Jakarta. Karena inti dari masalah Jakarta bermula dari bertambahnya penduduk. Yang artinya, pengurangan jumlah penduduk dengan transmigrasi atau re-migrasi ke daerah asalnya. Apakah ini efektif? Bisa iya bisa tidak. Tapi lihat saja keadaan Jakarta ketika libur lebaran, apakah tetap terjadi kemacetan? Rasanya kemacetan di Jakarta jadi lebih berkurang karena banyak warganya yang mudik ke luar kota.
Pembangunan di kota-kota lain selain Jakarta atau kota-kota di Pulau Jawa bisa dimulai dengan memperbaiki kualitas pendidikan. Hampir semua orang berpendapat bahwa pendidikan di Jawa lebih baik daripada pendidikan di daerah lain. Pemikiran seperti ini sudah mendarah daging sejak zaman penjajahan. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan di daerah-daerah, maka pembangunan di daerah-daerah tersebut akan lebih terbantu juga. Secara tidak langsung, ini akan membantu Jakarta untuk menekan masalah yang sudah ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar